Kamis, 27 Maret 2014

Tentang Hujan

Hujan adalah anugerah, hujan adalah kenikmatan, hujan adalah rejeki yang dikirim tuhan kepada manusia dalam bentuk secara tidak langsung. Karna manusia yang harus memanfaatkannya menjadi rejeki dan sumber kehidupan. Tapi yang jelas, hujan adalah air yang turun dari langit. Hujan dapat menjadi sahabat dan juga bisa menjadi musuh. Menjadi sahabat ketika di hari libur dan kita memutuskan untuk bermalas-malasan sepanjang hari, kegiatan malas-malasan akan menjadi lebih nikmat dengan ditemani hujan. Membuat suasana lebih intim ketika bercumbu dengan kasur dan guling. Ah indahnya hidup ini.

Hujan bisa menjadi musuh apabila ketika udah manasin motor dan bersiap memulai aktifitas, tapi apa daya hujan turun, dan mengganggu segala rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari. Rasanya ingin sekali mempunyai kekuatan untuk mengendalikan hujan. Yah tapi manusia kan hanya bisa berencana, hujan yang menentukan. Mungkin itu juga salah satu kekurangan motor dibanding mobil. Tapi enaknya punya motor itu kalo panas ga kehujanan, kalo hujan ga kepanasan.

Kemudian masalah yang diakibatkan oleh hujan adalah banjir. Seluruh jalanan tergenang oleh lautan air kotor. Roda ekonomi yang seharusnya berputar menjadi terhambat. Dan segala kerugian lainnya. Tapi kita tidak boleh semata-mata menyalahkan hujan. Kalo dipikirin lagi. Hujan tidak terlalu mengakibatkan akan datangnya banjir. Itu semua karna ulah manusia yang suka membuang sampah sembarangan. Mungkin seperti hukuman dari alam untuk kita, manusia. Agar tidak hobi membuang sampah sembarangan. Seperti membuang sampah ke kali se-enak jidat. Dengan wajah tanpa dosa langsung menyalahkan dan mengutuk pemerintah yang tidak becus menangani banjir. Ah, manusia.

Berbicara tentang hujan. Akhir-akhir ini terjadi suatu fenomena yang aneh. Pada suatu hari di siang nan panas terik. Saya memutuskan untuk singgah sebentar di warung pinggir jalan, saya pun memesan se-plastik es teh si*sri. Saya pun meminum es tersebut beberapa sedot. Cuaca panas terik dan minuman dingin adalah perpaduan yang pas. Sambil mencekek plastik tersebut saya pun melanjutkan perjalan. Tapi tak disangka tak diduga, beberapa saat kemudian hujan turun dengan derasnya. :|

Saat ini cuaca sudah tidak menentu. Hampir sama sekali tidak bisa diprediksi bahkan oleh aplikasi ramalan cuaca super canggih sekalipun. Mungkin dia lelah. Lelah dengan segala tindakan manusia yang se-enaknya dan ceroboh. Sudah dikasih kenikmatan tapi malah mengingkari nikmat tersebut.

Ya, sebut saja langit yang marah. Alam sudah mulai muak. Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai manusia yang bisa dikatakan hanya menumpang di alam yang luas dan megah ini? Tentu saja meminta maaf. Layaknya ketika kita berbuat salah kepada seseorang. Kita harus meminta maaf agar orang tersebut tidak marah kepada kita. “kata maaf mungkin tidak dapat mengubah masa lalu. Tapi kata maaf bisa merubah masa depan.” Lalu bagaimana caranya kita meminta maaf kepada alam? Apa dengan cara berbicara kepada langit dan pepohonan dengan kalimat “maafin aku ya, selama ini aku salah.”? Haha. LOL.

Meminta maaf kepada alam bisa seperti lebih menjaga dan menghargai alam. Dan berjanji kepada diri sendiri tidak lagi merusak alam dan ekosistem. Dan memanfaatkan alam sebaik mungkin. Ketika kita berbuat baik kepada seseorang, maka niscaya orang tersebut pun bakal berbuat baik kepada kita. Minimal tidak akan berbuat jahat kepada kita. Begitu pun dengan alam. Intinya adalah kesadaraan kita sebagai manusia sangat dibutuhkan. Karna seekor binatang tidak akan bisa menjaga kelestarian alamnya sendiri.

Marilah kita bersama-sama merawat bumi ini. Mungkin efeknya tidak dirasakan pada generasi kita, tapi bisa jadi pada anak cucu kita kelak. Dan jangan lupa di pemilu nanti coblos No. 69! *Bagiin amplop satu-satu* #Lah #MalahKampanye

Tidak ada komentar:

Posting Komentar